Jumat, 18 September 2015

PENGAWETAN IKAN MENGGUNAKAN COLD STORAGE



Ikan merupakan makanan yang mudah mengalami pembusukan. Apalagi di daerah tropis seperti Indonesia yang bersuhu relatif tinggi.Akan tetapi, umur penyimpanan ikan dapat diperpanjang dengan penurunan suhu. Bahkan ikan yang dibekukan dapat disimpan sampai beberapa bulan, sampai saat dibutuhkan ikan dapat dilelehkan dan diolah lebih lanjut oleh konsumen.

Pembekuan ikan berarti menyiapkan ikan untuk disimpan di dalam suhu rendah cold storage. Seperti pendinginan, pembekuan dimaksudkan untuk mengawetkan sifat-sifat alami ikan. Pembekuan menggunakan suhu yang lebih rendah, yaitu jauh di bawah titik beku ikan. Pembekuan mengubah hampir seluruh kandungan air pada ikan menjadi es, tetapi pada waktu ikan beku dilelehkan kembali untuk digunakan, keadaan ikan harus kembali seperti sebelum dibekukan. Ikan-ikan yang dibekukan untuk dikonsumsi mentah (sashimi) mutlak memerlukan terpeliharanya sifat-sifat ikan segar yang dibekukan, agar ketika dilelehkan tidak dapat dibedakan dari ikan segar.

PROSES PEMBEKUAN 
Tubuh ikan sebagian besar (60-80%) terdiri atas cairan yang terdapat di dalam sel, jaringan, dan ruangan-ruangan antar sel Sebagian besar dari cairan itu (+67%) berupa free water dan selebihnya (5) berupa bound water. Bound water adalah air yang terikat kuat secara kimia dengan substansi lain dari tubuh ikan.

Pembekuan berarti mengubah kandungan cairan tersebut menjadi es. Ikan mulai membeku pada suhu antara-0,60C sampai-20C, atau rata-rata pada 10C. Free water membeku terlebih dahulu kemudian disusul oleh bound water.

Proses tersebut terbagi atas 3 tahapan yaitu: 
1. Tahap pertama suhu menurun dengan cepat sampai 00C yaitu titik beku air. 
2. Tahap kedua suhu turun perlahan-lahan untuk merubah air menjad kristal-kristal es. Tahap ini sering disebut periode thermal arrest. 
3. Tahap ketiga suhu kembali turun dengan cepat ketika kira-kira 55 air telah menjadi es. Pada tahap ini sebagian besar atau hampir seluruh air membeku. 
Kristal-kristal es yang terbentuk selama pembekuan dapat berbeda-beda ukurannya tergantung pada kecepatan pembekuan. Pembekuan cepat menghasilkan kristal-kristal yang kecil-kecil di dalam jaringan daging ikan. Jika dicairkan kembali, kristal-kristal yang mencair diserap kembali oleh daging dan hanya sejumlah kecil yang lolos keluar sebagai drip. 
Sebaliknya pembekuan lambat menghasilkan kristal-kristal yang besar-besar. Kristal es ini mendesak dan merusak susunan jaringan daging. Tekstur daging ketika ikan dicairkan menjadi kurang baik, berongga, keropos dan banyak sekali drip yang terbentuk. Ikan yang dibekukan dengan lambat tidak dapat digunakan sebagai bahan bagi pengolahan-pengolahan tertentu misalnya pengalengan, pengasapan, dan sebagainya. Atas pertimbangan-pertimbangan diatas, maka disamping untuk menyingkat waktu dan menghasilkan output yang tinggi maka ikan mutlak dibekukan dengan cepat. 

Kecepatan Pembekuan 
Belum ada definisi tentang pembekuan cepat yang dapat diterima semua pihak. Beberapa pendapat dikemukakan dengan alasan sendiri-sendiri. Sangat langka orang yang dapat membedakan ikan segar dengan ikan yang dibekukan antara 1 jam dan 8 jam. Tetapi jika lebih dari 12 jam, perbedaannya jadi nyata. Pembekuan yang memakan waktu 24 jam atau lebih yang dilakukan dengan freezer yang dirancang atau dioperasikan dengan buruk pasti akan menghasilkan ikan beku dengan kualitas rendah. Pembekuan yang berkepanjangan, misalnya pembekuan yang dilakukan dengan menimbun ikan di cold storage, dapat menyebabkan ikan membusuk oleh kegiatan bakteri sebelum bagian tengah tumpukan ikan mencapai suhu yang rendah. 

Definisi yang lebih banyak diterima tidak menyebutkan lama pembekuan atau kecepatan pembekuan, tetapi semata-mata menyebutkan bahwa ikan harus dibekukan secepatnya dan diturunkan suhunya didalam freezer hingga mencapai suhu penyimpanan.

ALAT PEMBEKU IKAN 
COLD STORAGE 
Ikan yang telah dibekukan perlu disimpan dalam kondisi yang sesuai untuk mempertahankan kualitasnya. Biasanya ikan beku disimpan dalam cold storage, yaitu sebuah ruangan penyimpanan yang dingin.Penyimpanan ini merupakan tahap yang pokok dari cara pengawetan dan pembekuan. Suhu yang biasanya direkomendasikan untuk cold storage umumnya 300C hingga-600 C, tergantung pada kebutuhan. Pada suhu ini perubahan dan denaturasi protein dapat diminimalisasikan, selain itu aktivitas bakteri juga berkurang. walaupun penurunan mutu tetap terjadi tetapi bisa diminimalisasikan. 
Selain perubahan mikrobiologi dan kimia, selama penyimpanan beku terjadi perubahan secara fisik yaitu pada kristal-kristal es baik bentuk maupun ukuran. Perubahan ini sering disebut Rekristalisasi (Recristallisation). Terdapat 3 jenis rekristalisasi yang terjadi pada produk pembekuan selama penyimpanan beku yaitu: 
1. Isomass Recristallisation 
2. Accretive Recristallisation 
3. Migratory Recristallisation 
Terjadinya kenaikan ukuran rata-rata kristal es dan berkurangnya jumlah rata-rata kristal es karena terbentuknya kristal-kristal es yang lebih besar dari kristal-kristal es yang lebih kecil. Cold storage dapat mempertahankan mutu ikan selama 1-9 bulan, tergantung pada keadaan dan jenis ikan, cara pembekuan dan cara/kondisi penyimpanannya. Dengan teknik penanganan yang ideal ikan dapat disimpan lebih dari 4 tahun dalam cold storage. 
Desain yang benar dan penggunaan yang benar dari cold storage dapat meminimalisasikan kerusakan selama penyimpanan dan memperpanjang masa simpan produk. Faktor design yang paling penting adalah: 
-Suhu rendah 
-Keseragaman suhu dalam seluruh ruangan cold storage 
-Kestabilan suhu dengan fluktuasi yang minimal 
-Distribusi udara yang baik untuk mempertahankan keseragaman suhu 
-Sirkulasi udara minimum untuk mencegah dehidrasi 
-Minimum ingress udara untuk meminimalkan fluktuasi 
Tipe-tipe cold storage: 
1. Jacketed cold storage ( cold storage berjaket) 
tipe ini merupakan ruang penyimpanan yang ideal, tetapi konstruksinya sangat mahal. Ruang dalam terisolasi total dari jaket udara. Karena itu lapisan dalam harus dibuat dari bahan yang tidak dapat ditembus udara. Sambungan-sambungannya harus dibuat kedap udara. 
Sistem cold storage ini menjamin bahwa perbedaan suhu didalam ruang penyimpan cukup kecil. Hal ini dicapai karena aliran dari udara dingin mengelilingi bagian luar dari ruangan dalam storage. Selain itu, karena pemasukan panas sangat kecil, RH yang tinggi dapat dipertahankan. Dengan demikian , dehidrasi produk sangat terbatas. 
2. Gridded cold storage(cold storage dengan pipa pendingin polos) 
Pada tipe ini, pipa pendingin polos dirangkai menutupi seluruh langit-langit dan di dinding ruangan cold storage.Tipe ini juga menghasilkan kondisi penyimpanan yang baik karena suhu dalam ruangan cukup merata tanpa disirkulasikan dengan kipas. Panas yang masuk melalui dinding segera dikeluarkan tanpa mengganggu produk yang disimpan.

Kecepatan pemindahan panas kepipa hanya sedikit berkurang jika pipa tertutup es sihingga defrost tidak perlu sering dilakukan. Cold storage jenis ini dapat bekerja berbulan-bulan tanpa defrosting. 

Kelemahan atau kerugian utama dari tipe ini adalah: 
1. Ada banyak saluran-saluran pipa yang komplex 
2. Memerlukan bahan refrigeran dalam jumlah yang banyak 
3. Struktur cold storage harus kuat untuk menahan pipa-pipa dan refrigeran. 
4. Memerlukan bejana penampung regfrigeran jika cooler perlu dikosongkan untuk diperbaiki 

3. Finned grid stores (cold storage dengan pipa bersirip) 
Tipe ini mirip dengan gridded cold storage tapi pipa yang digunakan adalah pipa bersirip. Dengan pipa bersirip ini jika dirangkai dilangit-langit saja sudah mencukupi, tanpa memerlukan rangkaian pipa didinding. Dengan demikian biaya dapat dikurangi, akan tetapi kelemahannya adalah pipa tidak menutupi dinding sehingga kondisi penyimpanannya tidak sebaik cold storage dengan pipa polos. Pipa bersirip lebih sulit di-dfrost dan defrost perlu dilakukan sesering mungkin.

4. Cold storage dengan Unit cooler 
Tipe ini paling banyak digunakan karena paling murah pemasangannya; hanya sedikit memerlukan bahan pendingin; mudah di-defrost dan tidak memerlukan struktur penyangga yang berat. Kelemahannya adalah beberapa rancangan tidak memungkinkan distribusi udara yang merata di dalam cold storage sehingga menyebabkan kondisi penyimpanan yang buruk 


Sumber : http://dkp.kutaikartanegarakab.go.id/berita.php?id=65

KKP LUNCURKAN EMPAT PRODUK INOVASI

 

http://assets.kompas.com/data/photo/2015/03/27/1118560Arv57eCqu7WyH2OmjwGczdzA3ivpm8lRoxLJJFY8BudC780x390.jpg

KKPNews-Jakarta. Pada momentum Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) tahun ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali mempersembahkan produk inovasi teknologi yang secara resmi diluncurkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada Selasa (11/8), di Ballroom KKP Jakarta.

Empat produk inovatif yang diluncurkan diantaranya E-Log Book, E-Observer (E-Borang), Sistem Informasi Nelayan Pintar, dan Sistem Informasi Garam Rakyat (SiTEGAR). Selain itu KKP juga melepas secara resmi bibit unggul beberapa jenis ikan hasil rekayasa beberapa balai di bawah Balitbang KP untuk dibudidayakan. Komoditas ikan yang dirilis meliputi Lele Mutiara, Gabus Haruan, Gurame Batanghari, Mas Mantap, dan Udang Galah Siratu.

Dalam sambutannya Ibu Susi juga menegaskan bahwa suatu inovasi haruslah efisien, updateable, accessable, dan sustainbility. Jadi sebuah temuan atau inovasi tidka boleh berhenti. Inovasi adalah suatu hal yang harus dilakukan setiap hari. Inovasi berarti memperbaiki, upgrade, sebuah progress dan tidak boleh berhenti.

“Inovasi teknologi apapun itu bentuknya adalah satu hal yang harus terus menerus dilakukan oleh perorangan, pemerintah atau apapun badan bila sebuah bangsa itu mau maju. Tanpa inovasi di bidang teknologi maupun keilmuan lainnya sebuah bangsa tidak akan bisa mengikuti kemajuan – kemajuan di era globalisasi ini”, ujarnya.

Dalam acara yang sama juga Menteri Susi didampingi oleh Kepala Balitbang KP, Achmad Poernomo juga mengucapkan selamat kepada dua peneliti KKP yang berhasil masuk dalam 20 Karya Unggulan Teknologi Anak Bangsa 2015.

“Keberhasilan ini bukan hanya pada penghargaan saja, kita harus meneruskan bahwa inovasi yang telah kita lakukan dan dapatkan penghargaan ini pasti diterapkan, pasti dipake oleh masyarakat, karena kalau tidak masyarakat tidak mendapatkan hasil dan manfaatnya”, ucapnya.

Tak hanya itu, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBP4BKP) juga telah berhasil meraih Anugerah IPTEK Pranata Penelitian dan Pengembangan (Prayogasala) pada kategori lembaga litbang kementerian. Anugerah Prayogasala diberikan kepada Unit Kerja Pranata Litbang yang telah mendukung penguatan Sistem Inovasi Nasional.

“Semoga pada tahun berikutnya Direktorat Jenderal Teknis lingkup KKP dapat meraih Anugerah IPTEK Pandega Widyatama yang merupakan Anugerah IPTEK untuk unit Eselon I Pemerintah Pusat yang memanfaatkan hasil litbang dalam negeri,” ujar Kepala Balitbang KP. (AA/DS)

Sumber :
http://kkp.go.id/index.php/berita/kkp-luncurkan-empat-produk-inovasi/

Nama : Ema Iqtiva Ningsih
NIM  : 13069

Penggunaan Rumpon Sebagai Alat Bantu Penangkapan ikan


Indonesia merupakan negara kepulauan yang Iuas terbentang dart Papua hingga ke Nanggroe Aceh Darussalam dengan jumlah pulau lebih dari 1.700 buah. Di sepanjang pantai pulau-pulau tersebut, hidup para nelayan mencari nafkah dengan menggunakan berbagai ragam alat tangkap dan alat bantu penangkapan. Salah satu alat bantu penangkapan ikan yang telah dikenal masyarakat nelayan sebagai alat pemikat ikan adalah rumpon. Alai ini tersusun dari beberapa komponen, antara lain rakit, atraktor, tali rumpon, dan jangkar.

Nelayan di Utara Pulau Jawa telah sejak lama mengenal rumpon untuk memikat ikan agar berkumpul di sekitar rumpon, sehingga memudahkan Penangkapan. Berbagai alat tangkap digunakan di sekitar rumpon, antara lain alat tangkap lampara, pukat cincin, dan payang.

Dengan makin majunya teknologi rumpon telah menjadi salah satu alternatif untuk menciptakan daerah penangkapan buatan. Keberadaan rumpon memiliki manfaat yang cukup besar. Sebelum dikenal rumpon, masyarakat menangkap ikan dengan cara berburu mengejar kelompok renang ikan. Kini, dengan makin berkembangnya rumpon maka pada saat musim penangkapan tiba, daerah penangkapan menjadi pasti di suatu tempat. Dengan tertentunya tujuan daerah penangkapan maka nelayan dapat menghemat pemukaan bahan bakar, karena mereka tidak lagi memburu dan mengejar kelompok renang ikan.

Di Propinsi Maluku Utara dan Sulawesi Utara, para nelayan telah mulai mengenal rumpon, digunakan untuk memikat ikan permukaan (pelagic fish), antara lain: ikan selar, ikan layang, ikan kembung. tuna, dan cakalang agar berkumpul sehingga memudahkan nelayan yang menggunakan alat tangkap huhate dan pancing tangan.

Pukat Cincin

Para nelayan Jepang pada perikanan pukat cincin (purse seine) skala industri menggunakan rumpon hanyut di Samudera India dengan memanfaatkan arah dan kekuatan arus selatan katulistiwa untuk memikat ikan tuna dan cakalang. Rumpon mereka ditebarkan di Selatan Kepulauan Maldives. Selang beberapa minggu kemudian rumpon tersebut telah hanyut hingga di sebelah Barat Sumatera.

Bentuk rumpon terbuat dari rangkaian bambu dibalut dan kelilingi jaring usang (jaring bekas). Dalam satu kali penaburan pukat cincin pada satu rumpon dapat tertangkap 100 hingga 150 ton ikan tuna kecil (baby tuna) dan cakalang. Dapat dibayangkan eksploitasi sumber daya ikan tuna dan cakalang yang sangat berlebihan dilakukan nelayan pukat cincin skala industri ini, mengakibatkan perolehan hasil tangkapan perikanan rawai tuna Indonesia merosot tajam. Kita berharap para pengurus di Asosiasi Tuna Indonesia dapat segera bereaksi untuk membatasi aktivitas nelayan pukat cincin skala industri di Samudera Indonesia yang menangkap baby tuna dalam volume besar

Program Rumpon Dasar
Keberadaan rumpon dasar di Indonesia telah dikenal beberapa tahun silam, antara lain kelompok nelayan di Belawan (Sumatera Utara) yang memanfaatkan rongsokan tali, jarring dan besi sebagai rumpon dasar untuk pengoperasian alat tangkap pancing ulur. Sedangkan beberapa nelayan di Cirebon (Jabar) telah memasang rupon dasar untuk dimanfaatkan bagi para penggemar memancing, sehingga perahu-perahu nelayan laku untuk disewakan kepada para pemancing. Pemerintah DKI Jakarta juga pernah memanfaatkan rongsokan becak dan bis kota yang dibuang ke laut yang dimaksudkan sebagai rumpon buatan di dasar perairan.
Selanjutnya, Pemerintah melalui UPT (Unit Pelaksana Teknis) Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang yang berada di bawah Ditjen. Perikanan Tangkap – Departemen Kelautan dan Perikanan, melakukan kajian, pengembangan dan perekayasaan lebih lanjut tentang alat bantu pengumpul ikan di rumpon. Rumpon dasar hasil rekayasa BBPPI Semarang terbuat dari rangkaian bingkai ban truk (hill/ gil ban) dan ban truk utuh yang diisi semen cor serta dilengkapi dengan rumbai-rumbai dari pita plastic (packing band) dan potongan jarring bekas sebagai atraktor. Modul-modul rumpon dasar tersebut dirakit di darat dan kemudian diterjunkan/ ditenggelamkan ke dasar perairan. Penempatannya di dasar laut secara bergerombol dan telah dilaksanakan sejak tahun 2003.
Latar Belakang Perlunya Rumpon
Semakin bertambahnya kapal/ perahu dari waktu ke waktu, sementara ketersediaan sumberdaya tetap (atau bahkan cenderung menurun). Hal tersebut menjadikan produktivitas dan penghasilan nelayan semakin menurun. Sementara itu, banyak alat penangkapan ikan yang tidak selektif yang digunakan nelayan sehingga telur dan anakan (juvenile) ikan/ udang/ cumi/ rajungan juga ikut tertangkap dan akhirnya mati sia-sia. Di sisi lain, penggunaan alat penangkapan ikan kelompok pukat hela; jaring arad, cotok, lampara dasar yang dimodifikasi, dan lain-lain yang banyak beroperasi di perairan pantai berpotensi menimbulkan kerusakan areal pemijahan (spawning ground) dan area perlindungan anakan (juvenile) ikan/ udang/ cumi/ rajungan (nursery ground). Hal tersebut mengakibatkan dasar perairan akan menjadi “gersang”, sehingga menjadikannya tidak memiliki tempat untuk berlindung bagi telur dan anakan (juvenile).
Berkaitan dengan hal tersebut, maka rumpon dasar sebagai alat bantu penangkapan ikan yang selektif dipandang tepat untuk menjawab permasalahan tersebut. Sebab, dengan pemasangan rumpon dasar, maka ikan-ikan besar/ ukuran konsumsi yang ada di sekitar areal rumpon dasar dapat ditangkap oleh nelayan. Sedangkan, telur dan anakan (juvenile) dapat terhindar dari jaring nelayan karena berlindung di dalam celah-celah rumpon dasar sehingga dapat tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Telur dan anakan (juvenile) merupakan salah satu mata rantai dalam siklus hidup spesies sasaran tangkapan. Jika mata rantai ini hilang (mati karena tertangkap) maka kesempatan untuk tumbuh dan berkembang akan terputus.
Lokasi Pemasangan Rumpon
Rumpon berbahan ban bekas telah banyak digunakan di sejumlah lokasi perairan di Jawa Tengah dan Jawa Barat. BBPPI sejak 2003 telah mengembangkan rumpon dasar dari rangkaian ban bekas untuk didistribusikan ke beberapa wilayah perairan di Kabupaten Demak, Pati, Rembang, dan Pekalongan di Jawa Tengah antara lain sebagaimana tabel di bawah.
Tabel Dinas Perikanan dan Kelautan yang telah menggunakan rumpon dasar rancangan dari BBPPI Semarang:
No
Instansi/ Diskanlut
Jumlah modul rumpon yang dipasang
2003
2004
2005
2006
2007
1
Kab. Pekalongan
30
50
-
100
110
2
Kab. Pati
20
20
-
-
24
3
Kab. Demak
-
-
200
-
300
4
Kota Rembang
20
20
-
-
-
5
Prop. Jateng
-
-
-
120
120
Pertimbangan penggunaan rumpon dasar adalah didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:
- Kondisi padat tangkap;
- Habitat ikan/udang/cumi di sebagian besar perairan pantura sudah rusak;
- Daya dukung perairan menurun;
SDI menurun yang menyebabkan menurunnya produktivitas menurun (CPUE menurun)
Tujuan dari penggunaan rumpon dasar adalah untuk: menciptakan fishing ground buatan;
2)    Menciptakan areal pemijahan dan perlindungan bagi telur serta anak-anak ikan, cumi, rajungan, udang dan sebagainya ( Fungsi Spawning & Nursery Ground );
3)    Merevitalisasi habitat yang telah rusak;
4)    Meningkatkan produktifitas perairan yang tidak subur atau produktifitasnya rendah;
5)    Meningkatkan daya dukung dan produktifitas perairan (stok ikan dan non ikan );
6)    Menghambat  beroperasinya mini trawl (illegal fishing);
7)    Efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin penggerak kapal;
8)    Mempertahankan mutu ikan hasil tangkapan.
Pemanfaatan rumpon dasar sebagai habitat buatan sesuai dengan tujuan untuk melindungi daerah pesisir agar tetap utuh dan seimbang dan menjadikan habitat yang baik bagi anak-anak ikan untuk menjadi spawning ground  bagi stok ikan / udang dewasa dan nursery ground  bagi anak ikan/udang/cumi. Pemanfaatan rumpon dasar juga berguna untuk mereduksi alat-alat tangkap yang bersifat aktif seperti mini trawl yang terindikasi masih beroperasi di wilayah jalur satu. Apabila pengoperasian alat sejenis ini dibiarkan tanpa kontrol maka daerah penangkapan ikan akan berubah menjadi seperti “padang pasir” sehingga tidak ada tempat untuk berlindung bagi telur dan anak-anak ikan, udang dan cumi-cumi seperti yang diduga terjadi di Pantura Jawa.
Pada dasarnya rumpon dasar/habitat buatan sudah sejak dulu digunakan oleh nelayan, baik oleh nelayan Indonesia maupun nelayan mancanegara. Bahan dasar dari rumpon dasar ini bermacam-macam ada yang terbuat dari bambu, kayu yang dimodifikasi dengan dedaunan dan adapula yang menggunakan bahan dari beton. Penggunaan bahan dari bambu dan kayu dinilai kurang efektif karena cepat rusak dan hancur sedangkan dari bahan beton dinilai terlalu mahal. Dari hasil uji coba BBPPI semarang rumpon dasar menggunakan hill ban bekas dinilai cukup efektif dan efisien.
Pengelolaan:
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pemasangan rumpon dasar:
1. Sebelum dilakukan pemasangan rumpon dasar perlu ditanampakan pemahaman kepada nelayan tentang rumpon dasar bagi pelestarian sumberdaya ikan serta manfaatnya bagi nelayan;
2. Dalam pelaksanaan penentuan calon lokasi, perakitan (di darat) dan pemasangannya (di laut) harus mengikutsertakan nelayan setempat, agar nelayan merasa ikut memiliki keberadaan rumpon dasar tersebut;
Setelah dilakukan pemasangan :
a. Pada areal pemansangan rumpon dasar perlu diberi pelampung tanda pengenal dan dicatat posisinya (lintang dan bujur) serta pedoman/ tanda-tanda di darat yang mudah dikenal/ dilihat;
b. Perlu dilakukan sosialisasi tentang keberadaan (posisi) gugusan rumpon dasar tersebut kepada kelompok-kelompok nelayan di sekitar;
c. Perlu adanya kesepakatan-kesepakatan antar kelompok nelayan tengtang pemanfaatan dan pengelolaan rumpon dasar tersebut;
d. Dicatat oleh Diskanlut Kabupaten/ Kota sebagai data base rumpon untuk monitoring dan evaluasi.
Kendala:
1. Bahan rumpon dasar yang terbuat dari bangkai ban truk (hil/gill) ban persediaannya terbatas, sehingga dalam pengadaannya harus mendatangkan dari bebrapa tempat serta memakan waktu relatif lama;
2. Dalam hal pengadaan bahan, solusi alternative yang dilakukan oleh BBPPI Semarang adalah melakukan perekayasaan rancang bangun modul rumpon dengan model dan material baru yang mudah diperoleh dan dapat memenuhi kebutuhan dalam jangka panjang;
3. Di samping itu, belakangan muncul issue bahwa penggunaan ban bekas dalam jangka panjang akan merusak lingkungan karena berpotensi menghasilkan senyawa dioksin yang dapat meracuni biota laut dan manusia yang mengkonsumsinya, sehingga dicari alternatif pengganti ban bekas;
Sehubungan dengan kendala-kendala tersebut, maka perlu dikembangkan rancang bangun rumpon dasar dari bahan plastik atau Polyvinyl Chloride (PVC) atau bahan lainnya yang merupakan bahan yang banyak digunakan sebagai peralatan rumah tangga dan termasuk dalam bahan yang tidak berbahaya baik bagi manusia dan lingkungan.
rumpon 1rumpon5
rumpon3rumpon2

Sumber : http://kapi.kkp.go.id/news/2011/11/penggunaan-rumpon-sebagai



MENGENAL GPS DAN FISH FINDER SEBAGAI TEKNOOLOGI PENANGKAPAN IKAN


PENGGUNAAN GPS DAN FISH FINDER


Teknologi penangkapan menjadi hal yang sangat diperlukan dalam kegiatan penangkapan ikan di era modern ini. Jika cara nelayan dahulu itu dalam mencari lokasi ikan hanya berdasarkan pengalaman, intuisi, mengamati tanda-tanda alam. Namun sekarang , dalam mencari lokasi ikan dibantu dengan alat elektronik seperti Global Position System (GPS) dan Fish Finder. Kedua alat ini bisa membuat sukses memancing.

Fungsi dan Cara Memakai Alat GPS
Sesuai dengan fungsinya GPS akan memberikan informasi lokasi tertentu apakah itu lokasi mancing (hot spot), pelabuhan, pulau, rumpon, tandes dan lain-lainnya. Lokasi-lokasi itu dinyatakan sebagai titik koordinat bumi (way point) berupa nilai derajat, menit dan detiknya di garis lintang (latitude/ Lat) dan garis bujur (Longitute/Lon) untuk kemudian disimpan dalam memori GPS.
Fungsi lain yaitu GPS juga bisa memberikan data-data kecepatan kapal absolute (speed over ground), kecepatan kapal sampai tujuan (speed over course), waktu tempuh (time to go), perkiraan waktu tiba (estimated time arrival). melalui GPS kita juga bisa mengetahui penyimpangan arah yang terjadi (cross track error).
Melalui GPS kita bisa terbantu, karena GPS bisa menunjukkan arah perjalanan ke lokasi koordinat yang telah direkam. Di dalam GPS memberikan data data berupa arah kompas (bearing) dan jarak tempuh yang harus ditempuh (range). Selain itu melalui GPS kita juga memasukan data (ploting) setiap lokasi yang ingin kita kunjungi secara berurutan, sehingga bila kita hubungkan akan terbentuk suatu rute perjalanan.


Hasil gambar untuk gambar gps perikanan



Selain penggunaan GPS nelayan modern juga menangkap ikan menggunakan bantuan fishfinder, berikut adalah penjelasannya.

Pengertian Fishfinder
Prinsip kerja dari fishfinder yaitu gelombang suara berfrekuensi antara 15 kHz sampai 455 kHz dipancarkan tranduser dipantulkan oleh dasar perairan kemudian ditangkap kembali oleh transduser. Fishfinder ialah perangkat elektronik yang bekerja dengan cara memancarkan gelombang ultrasonik dan menangkap kembali pantulannya. Perangkat fishfinder yang digunakan untuk memancarkan gelombang dan menangkap gelombang kembali disebut dengan nama tranduser. Proses gelombang pantulan yang berulang-ulang itu ditangkap tranduser kemudian diterjemahkan dalam monitor dalam bentuk titik-titik sehingga menimbulkan gambar topografi dasar perairan. Dari hasil pembacaan gambar topografi itulah akhirnya kita bisa membedakan kekerasan dari topografi struktur dasar perairan.
Biasanya bila keadaan dasar perairan benda yang keras maka warna di monitor gambarnya lebih pekat. Sebaliknya jika topografi lembek maka gambar di monitor pun tidak pekat. Jadi bila topograf dasar perairan keras bisa diasumsikan bahwa dasar berupa karang. Demikian juga bila dimonitor fishfinder gambarnya tidak pekat warnanya maka sering kita terjemahkan dengan lumpur. Selain itu rata tidaknya topografi dasar perairan bisa di ketahui melalui fishfinder. Untuk mengetahui itu semua merupakan penyimpulan titik hasil pembacaan fishfinder.
Untuk bisa mengetahui apakah topografi itu berupa karang luas, tandes atau rumpon, tentu saja diperlukan jam terbang yang tinggi. Artinya si pemakai fish finder harus hafal betul gambar-gambar yang ditampilkan oleh monitor fishfinder. Selain topografi dasar perairan, gelombang suara yang dipancarkan oleh transduser terkadang mengenai benda-benda yang melayang dalam air, karena benda tersebut juga memantulkan gelombang. Benda yang melayang itu pun bisa terbaca dalam monitor fishfinder
Dalam tangkapan GPS fishfinder, Benda yang melayang itu bisa saja kumpulan ikan, sampah atau rumput laut. Namun bila di karang-karang atau struktur topografi perairan yang keras biasanya benda yang melayang itu adalah gerombolan ikan.
Hasil gambar untuk gambar fish finder perikananHasil gambar untuk gambar fish finder perikanan

Sumber : http://teknologisurvey.com/index.php?route=information/news&news_id=12